Pada 25 April 2026 telah dilaksanakan kegiatan Kajian
Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai bagian dari program kerja Pengurus
Rayon PMII Ibnu Sina. Kegiatan ini merupakan bentuk upaya dalam memperkuat
pemahaman keislaman anggota dan pengurus, khususnya dalam menghadapi
perkembangan isu-isu di era digital yang semakin kompleks.
Kajian Aswaja ini diselenggarakan sebagai sarana untuk
menambah pemahaman tentang keaswajaan yang berkaitan dengan fenomena yang
terjadi di tengah masyarakat, sekaligus memperdalam nilai-nilai Aswaja agar
dapat diamalkan dalam kehidupan seharihari, baik di lingkungan kampus maupun
masyarakat. Melalui kegiatan ini, peserta juga didorong untuk memiliki pola
pikir yang kritis, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas
kebenarannya, serta mampu menyikapi berbagai persoalan secara bijak dan proporsional.
Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dengan
ketentuan maksimal satu bulan satu kali pertemuan, dengan target pelaksanaan
sebanyak lima kali dalam satu periode. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan
ini berjumlah minimal lima belas orang yang terdiri dari anggota dan pengurus
Rayon PMII Ibnu Sina. Pelaksanaan kajian dilakukan secara online sehingga tetap
dapat menjangkau peserta secara luas serta menyesuaikan dengan kondisi dan
perkembangan teknologi saat ini.
Adapun materi yang disampaikan dalam kajian ini adalah
mengenai “Penyebaran Hoaks Politik di Era Digital” yang disampaikan oleh
pemateri Sahabati Asrofiatut Taubah. Dalam penyampaiannya dijelaskan bahwa
hoaks politik merupakan informasi yang tidak benar atau menyesatkan yang
berkaitan dengan isu politik dan sengaja dibuat untuk memengaruhi opini
masyarakat, baik untuk menjatuhkan pihak tertentu maupun menguntungkan pihak
lain.
Dalam perspektif Aswaja, pemateri menekankan
pentingnya sikap i’tidal, yaitu sikap adil, seimbang, dan tidak berlebihan
dalam menyikapi suatu informasi. Tantangan untuk
bersikap i’tidal di era digital menjadi semakin besar
karena arus informasi yang sangat cepat dan kebiasaan masyarakat yang reaktif.
Sebagai landasan nilai dalam kegiatan ini, disampaikan firman Allah SWT:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat tersebut menegaskan pentingnya berlaku adil dalam segala kondisi, bahkan ketika menghadapi pihak yang tidak disukai. Nilai keadilan inilah yang menjadi dasar dalam bersikap i’tidal.
Selain itu, konsep tabayyun juga ditekankan dalam
kajian ini, sebagaimana dalam firman Allah SWT:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya : "Cukuplah seseorang dicap sebagai pendusta jika ia menceritakan (menyebarkan) setiap apa yang ia dengar" (HR. Muslim).
Hadis tersebut menjelaskan bahwa “seseorang dapat
dianggap berdusta apabila ia menyampaikan semua informasi yang didengarnya
tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.”
Melalui kajian ini, peserta diharapkan mampu
mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari, khususnya
dalam menghadapi arus informasi di era digital. Sikap bijak dalam bermedia
sosial, kemampuan mengendalikan emosi, serta kebiasaan melakukan tabayyun
menjadi hal penting yang harus dimiliki agar tidak mudah terpengaruh oleh
hoaks.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan dapat
terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga
memiliki karakter keislaman yang moderat, adil, dan bertanggung jawab dalam
menyikapi setiap informasi yang diterima.
Demikian berita acara ini dibuat sebagai bentuk
dokumentasi pelaksanaan kegiatan Kajian Aswaja dan dapat digunakan sebagaimana
mestinya..


0 Komentar