Sidebar Ads

header ads

Sami’naa Wa Atho’naa dalam Kepemimpinan


Ada yang menarik dari kalimat Sami’naa wa atho’naa. Kalimat ini sering kita dengar dalam konteks ibadah sholat berjamaah, diucapkan oleh makmum sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah imam. Dalam bahasa Arab, Sami’naa berarti “kami mendengar”, dan atho’naa berarti “kami patuh” atau “kami taat”. Kalimat ini tidak hanya menggambarkan sebuah ungkapan sederhana, tetapi juga mencerminkan sikap penuh ketaatan dan keyakinan yang dalam terhadap Allah SWT. Kepatuhan yang berlandaskan iman dan takwa menjadi inti dari kalimat ini, yang mengajarkan kita tentang pentingnya mendengar dengan hati dan mematuhi dengan penuh kesadaran. Namun, jika kita renungkan lebih jauh, kalimat ini juga memiliki makna yang relevan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam konteks kepemimpinan. Bagaimana kalimat Sami’naa wa atho’naa dapat diterapkan dalam kepemimpinan? Apa kaitannya dengan sikap pengikut dan pemimpin dalam suatu organisasi atau masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi fokus kita untuk menggali lebih dalam makna dari kalimat yang sederhana, namun penuh dengan nilai-nilai yang mendalam ini.

Saminaa wa athonaa bukan sekadar kalimat yang muncul dalam ritual ibadah, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang kepatuhan dan keikhlasan dalam menjalani perintah. Dalam konteks sholat, kalimat ini diucapkan sebagai bentuk kerjasama antara imam dan makmum. Imam, sebagai pemimpin dalam ibadah memimpin sholat dan memberi instruksi kepada makmum. Makmum, dengan penuh kesadaran mendengarkan dan mengikuti instruksi tersebut untuk memastikan ibadah berjalan dengan tertib dan khusyuk. Kepatuhan ini tidak hanya terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan sikap batin yang penuh keyakinan kepada Allah SWT, bahwa perintah-Nya adalah yang terbaik. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, sikap Sami’naa wa atho’naa mencerminkan keikhlasan untuk mengikuti arahan dan perintah, baik dari pemimpin agama, sosial, maupun politik, dengan keyakinan bahwa langkah-langkah yang diambil adalah demi kebaikan bersama.

Kalimat ini juga sangat relevan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya soal memberi perintah, tetapi lebih tentang bagaimana seorang pemimpin mampu mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan dari pengikutnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Bapak Anies Baswedan (salah satu idola saya) beliau mengatakan dalam kanal youtubenya “You are a leader only if and only if you have a follower.” Seorang pemimpin disebut sebagai pemimpin bukan karena posisinya, tetapi karena ia memiliki pengikut yang siap mendukung visi dan misinya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, seorang imam tidak bisa menjalankan peranannya dengan baik tanpa adanya makmum yang mendukung dan mengikuti. Di sinilah pentingnya hubungan dua arah antara pemimpin dan pengikut, yang saling bergantung untuk mencapai tujuan bersama.

Namun, kepatuhan dalam kepemimpinan tidak bisa diterima begitu saja tanpa pertimbangan yang matang. Kepemimpinan yang bijaksana adalah kepemimpinan yang tidak hanya mengandalkan ketaatan, tetapi juga mempertimbangkan kritik dan masukan dari pengikutnya. Kepatuhan bukan berarti menuruti segala perintah tanpa berpikir kritis, tetapi lebih pada bagaimana seseorang memiliki rasa tanggung jawab untuk memastikan keputusan yang diambil sudah tepat dan sesuai dengan kebenaran. Dalam konteks ini, Sami’naa wa atho’naa bukan hanya sekadar mengikuti perintah, tetapi juga bagian dari sebuah kesepakatan bersama untuk menjalankan kebaikan. Pengikut yang baik harus memiliki keberanian untuk mengingatkan pemimpin jika ada langkah yang kurang tepat, namun tetap dalam batasan adab dan etika.

Kepatuhan yang dimaksud dalam kalimat Sami’naa wa atho’naa seharusnya juga mencakup sikap saling mengingatkan dalam kebaikan. Dalam suatu kepemimpinan yang sehat, pengikut tidak hanya menjadi alat yang patuh tanpa pertimbangan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga arah dan keputusan pemimpin. Kepatuhan ini harus saling mendukung dengan sikap saling mengingatkan, agar pemimpin dan pengikut bisa berjalan bersama menuju tujuan yang lebih baik. Sebagai pengikut, kita wajib mendengarkan dan mengikuti perintah, namun kita juga bertanggung jawab untuk mengingatkan jika ada keputusan yang bisa membawa dampak negatif bagi kemajuan bersama.

Akhirnya, makna dari Sami’naa wa atho’naa dalam kepemimpinan adalah tentang keseimbangan antara mendengarkan dengan penuh perhatian, mematuhi dengan penuh kesadaran, dan tidak ragu untuk saling mengingatkan demi kebaikan bersama. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang bisa berjalan dengan kesetiaan dan ketaatan dari pengikutnya, namun tetap terbuka terhadap kritik yang membangun. Kepemimpinan yang bijaksana adalah kepemimpinan yang mendengarkan, mempertimbangkan, dan bertindak demi kebaikan bersama. Melalui kalimat ini, kita belajar bahwa kepatuhan tidak hanya tentang mengikuti tanpa berpikir, tetapi tentang menjalani tanggung jawab dengan penuh iman dan takwa, serta saling mengingatkan dalam menjalani kebenaran.

Penulis: Dika Brian Putra Wiyana17 Maret 2025

Posting Komentar

0 Komentar