Kalimat ini juga sangat relevan ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya soal memberi perintah, tetapi lebih tentang bagaimana seorang pemimpin mampu mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan dari pengikutnya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Bapak Anies Baswedan (salah satu idola saya) beliau mengatakan dalam kanal youtubenya “You are a leader only if and only if you have a follower.” Seorang pemimpin disebut sebagai pemimpin bukan karena posisinya, tetapi karena ia memiliki pengikut yang siap mendukung visi dan misinya. Begitu pula dalam kehidupan sosial, seorang imam tidak bisa menjalankan peranannya dengan baik tanpa adanya makmum yang mendukung dan mengikuti. Di sinilah pentingnya hubungan dua arah antara pemimpin dan pengikut, yang saling bergantung untuk mencapai tujuan bersama.
Namun, kepatuhan dalam kepemimpinan tidak bisa diterima begitu saja tanpa pertimbangan yang matang. Kepemimpinan yang bijaksana adalah kepemimpinan yang tidak hanya mengandalkan ketaatan, tetapi juga mempertimbangkan kritik dan masukan dari pengikutnya. Kepatuhan bukan berarti menuruti segala perintah tanpa berpikir kritis, tetapi lebih pada bagaimana seseorang memiliki rasa tanggung jawab untuk memastikan keputusan yang diambil sudah tepat dan sesuai dengan kebenaran. Dalam konteks ini, Sami’naa wa atho’naa bukan hanya sekadar mengikuti perintah, tetapi juga bagian dari sebuah kesepakatan bersama untuk menjalankan kebaikan. Pengikut yang baik harus memiliki keberanian untuk mengingatkan pemimpin jika ada langkah yang kurang tepat, namun tetap dalam batasan adab dan etika.
Kepatuhan yang dimaksud dalam kalimat Sami’naa wa atho’naa seharusnya juga mencakup sikap saling mengingatkan dalam kebaikan. Dalam suatu kepemimpinan yang sehat, pengikut tidak hanya menjadi alat yang patuh tanpa pertimbangan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga arah dan keputusan pemimpin. Kepatuhan ini harus saling mendukung dengan sikap saling mengingatkan, agar pemimpin dan pengikut bisa berjalan bersama menuju tujuan yang lebih baik. Sebagai pengikut, kita wajib mendengarkan dan mengikuti perintah, namun kita juga bertanggung jawab untuk mengingatkan jika ada keputusan yang bisa membawa dampak negatif bagi kemajuan bersama.
Akhirnya, makna dari Sami’naa wa atho’naa dalam kepemimpinan adalah tentang keseimbangan antara mendengarkan dengan penuh perhatian, mematuhi dengan penuh kesadaran, dan tidak ragu untuk saling mengingatkan demi kebaikan bersama. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang bisa berjalan dengan kesetiaan dan ketaatan dari pengikutnya, namun tetap terbuka terhadap kritik yang membangun. Kepemimpinan yang bijaksana adalah kepemimpinan yang mendengarkan, mempertimbangkan, dan bertindak demi kebaikan bersama. Melalui kalimat ini, kita belajar bahwa kepatuhan tidak hanya tentang mengikuti tanpa berpikir, tetapi tentang menjalani tanggung jawab dengan penuh iman dan takwa, serta saling mengingatkan dalam menjalani kebenaran.
0 Komentar