Sidebar Ads

header ads

Mengutamakan cantik lahiriah dibandingkan dengan cantik batiniah?

    Apa yang terbayangkan dalam pikiranmu ketika mendengar kata cantik? Seperti apakah definisi cantik yang terlintas dalam pikiranmu? Kata cantik sangat erat kaitannya dengan manusia ciptaan Tuhan yang berjenis kelamin perempuan, akan tetapi laki-laki juga turut andil dalam hal tersebut. Kecantikan atau feminitas seorang perempuan sampai saat ini masih menganut budaya patriarki yang mana laki-laki memiliki kuasa untuk mengakui atas feminitas seorang perempuan, dan seorang perempuan selalu mencari peluang untuk diakui feminitasnya oleh laki-laki. Namun M. Quraish Shihab menuliskan didalam bukunya bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk menampilkan kecantikannya dan selalu mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan laki-laki, sehingga tidak heran jika seorang laki-laki cenderung lebih mencari kecantikan dan perempuan cenderung menampakkan kecantikan tersebut. Dan hal tersebut merupakan naluri yang di anugerahkan kepada perempuan dan laki-laki. 
    Tak banyak orang mendefinisikan kecantikan seorang perempuan itu adalah kecantikan yang berasal dari hati dan akhlaknya, dan juga kebanyakan orang mendefinisikan bahwa cantik itu dilihat dari penampilan fisiknya. Indikator kecantikan seorang perempuan terutama di kehidupan modern seperti saat ini adalah ada pada kesempurnaan tubuh atau fisiknya, seperti halnya memiliki kulit halus, warna kulitnya putih, rambut lurus, hidung mancung, tubuh tinggi, langsing, dan semua hal yang sudah melekat pada diri perempuan sejak ia lahir. Namun sesuatu yang melekat pada diri seorang perempuan untuk saat ini bisa dikatakan bukan lagi yang asli akan tetapi upaya dari polesan make up seperti halnya yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Perempuan” pada sub bab “Perempuan dan Kecantikan”. Dengan standar kecantikan seorang perempuan yang harus memiliki kesempurnaan secara fisik, seperti yang penulis sebutkan sebelumnya yaitu kulit putih, tubuh tinggi, langsing, wajah yang halus dan tidak kusam. Sehingga hal tersebut mengakibatkan semakin maraknya produk-produk kecantikan yang bisa memenuhi kebutuhan standar kecantikan dari seorang perempuan di era modern ini. Dan tak jarang sebagian orang rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit jumlahnya asalkan standar kecantikan tersebut tercapai, dan terlebih lagi agar mendapatkan perhatian dari media massa yang menjadi tempat untuk berbagi kecantikan dan menampakkan kecantikan tersebut. Dan hal tersebut bisa dikatakan bahwa “Cantik itu Laku” seperti halnya yang dikatakan oleh salah satu pemateri pada saat penulis menjadi panitia dalam Acara Sekolah Kader Putri (SKP) KOPRI PMII Sunan Kalijaga, Universitas Negeri Malang. Karena perempuan rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk mengisi tasnya dengan berbagai macam skincare agar kecantikan fisiknya bisa tampak, menjadi pusat perhatian media massa dan bahkan hal itu bisa menjadi kebutuhan utama bagi perempuan yang lebih mengutamakan keindahan (kecantikan) fisik. 
     Namun menurut Anggia Chrisanti, seorang Konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria. Predikat kecantikan perempuan tidak hanya berdasarkan kesempurnaan fisik, akan tetapi jauh lebih baik jika seorang perempuan memiliki kecantikan yang alami. Dimana yang dimaksud dengan kecantikan yang alami ini adalah memiliki kepribadian yang baik atau bisa dikatakan akhlak yang baik, kemudian juga kemampuan intelektualnya. Hal itu juga dikatakan oleh mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada saat ajang kompetisi Puteri Muslimah pada tahun 2015, beliau mengatakan bahwa kecantikan tidak hanya dinilai dari fisiknya akan tetapi kecantikan lebih dari itu. “Kecantikan juga dapat dilihat dari bakat, wawasan, dan kemampuan dalam membaca Al-Quran, karena hal yang positif lebih bermutu dibandingkan hanya sekedar penampilan fisik yang sempurna,” tambahnya. Akan tetapi jauh lebih baik lagi apabila kecantikan fisik dan kecantikan akhlaknya bisa dipadukan. 
    Didalam Agama Islam juga menganjurkan untuk memadukan keindahan jasmani dan rohani. Karena Allah juga sangat menyukai keindahan, dan Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan keindahan serta untuk tampil indah. Sebagaimana firmannya dalam Q.S Qaf [50]:6 yang mana kandungan dari surat tersebut adalah perintah Allah kepada kita sebagai manusia untuk memperhatikan langit dan juga keindahannya. Dan juga dalam hadist Rosul yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Ibnu Abbas, yang mengatakan bahwa Allah itu indah dan Allah juga menyukai keindahan (kecantikan). Seperti yang tertulis didalam buku M. Quraish Shihab bahwa salah satu bukti Allah memerintahkan kita untuk memadukan keindahan (kecantikan) jasmani (lahiriah) dan keindahan (kecantikan) rohani (batiniah) ada pada Q.S Al-A’raf [7]: (3) yang artinya “Hai anak-anak Adam, pakailah pakaian kamu yang indah disetiap masjid.” Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa keindahan lahir dan batin tidak dikorbankan salah satunya, akan tetapi memadukan keduanya dengan indah. Seperti halnya yang dikatakan oleh orang tua Habib Husein Ja’far Al-Hadar kepada Habib Husein yaitu keutamaan manusia tidak dilihat dari tampan atau cantik, harta, unggul dalam hal nasab, atau bahkan ilmunya, akan tetapi dari akhlaknya. Betapapun seseorang memiliki itu semua jika tidak memiliki akhlak maka hal tersebut tidak ada artinya. Sebagai salah satu contohnya adalah seseorang lelaki akan terpukau dengan penampilan atau keantikan seorang perempuan, akan tetapi kecantikan yang dimilikinya tidak dibalut dengan akhlak yang mulia, maka kecantikannya akan lekang dimata lelaki karena tertutup oleh akhlaknya yang tidak terpuji tersebut. Gus Miftah juga pernah berkata dalam setiap dakwahnya bahwa kecantikan fisik seorang perempuan akan membuat laki-laki menatap akan tetapi kecantikan hatinya seorang perempuan akan membuat laki-laki menetap. Kecantikan wajah/luar hanya menyenangkan mata, sedangkan kecantikan dari dalam akan menawan hati, demikian yang ditulis oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya. 
     Penulis juga ingin berpesan dan sekaligus reminder untuk penulis sendiri bahwa kecantikan fisik tak selamanya menjadi standar kecantikan, akan tetapi keindahan rohani (akhlak mulia) yang jauh lebih diutamakan dan memiliki nilai terlebih lagi ketika keindahan jasmani dipadukan dengan keindahan rohani yaitu akhlak mulia. Seperti yang dikatakan oleh matematikawan asal Persia yaitu Khawarizmi, “Seorang manusia bila dihiasi dengan akhlak yang mulia, maka dia telah memiliki angka 1. Bila juga dia dikaruniai tuhan kecantikan atau ketampanan maka angka 1 sebelumnya ditambah 0 sehingga bernilai 10. Begitu seterusnya apabila dia memiliki harta yang cukup maka angka 10 sebelumnya ditambah 0 sehingga bernilai 100. Dan ketika dia juga memiliki nasab yang baik, maka angka 100 sebelumnya mendapatkan tambahan angka 0 lagi sehingga menjadi 1000. Dan angka 0 tersebut akan semakin bertambah dan nilainya juga akan meningkat dengan seiring bertambahnya kebaikan-kebaikan yang ada pada diri seseorang. Akan tetapi seseorang akan rugi ketika memiliki tambahan sifat atau ciri-ciri yang bernilai 0 semakin banyak, tapi tidak bersandar pada angka 1 sebelumnya. Angka 1 tersebut merupakan gambaran dari akhlak mulia yang dimiliki oleh seseorang. Maka sekiranya lenyap akhlak dalam diri manusia maka, tiadalah nilai sebuah kehidupan meskipun disulami beribu kemuliaan. Tanpa angka satu, nol akan tetap bernilai nol, tidak ada artinya”. 


Penulis: Hikmatul Khasanah, 23 Mei 2022

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Anonim7/05/2022

    Sepakat, harusnya diartikan seperti itu. Tapi untuk mengistilahkan cantik wajahnya bagaimana sahabati? Hehe..

    BalasHapus