Sidebar Ads

header ads

Falsafah kepemimpinan Si Dewantara


  Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
" Semua berawal dari bacaan kemudian direfleksi dan berakhir pada penerapan "


Dalam sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran Pemuda Indonesia. Banyak Pemuda Indonesia berperang melawan para penjajah dari berbagai bidang. Ada yang berperang melwati bidang ekonomi, politik, maupun dalam doktrinasi melewati pendidikan. Salah satu pemuda yang namanya terkenang sampai pada abad ini yaitu Suwardi Suryaningrat yang dikenal dengan Ki Hajar Dewantara Sang perintis falsafah kepemimpinan " Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani " yang dijadikan falsafah wajib bagi seorang guru.


 Falsafah yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara ini selalu ditanamkan oleh banyak pendidik di Indonesia dalam berbagai jenjang karena dianggap falsafah yang akan terus cocok dengan berbagai perubahan yang ada. Begitu pula ketika falsafah tersebut digunakan oleh seorang pemimpin.
- Ing Ngarsa Sung Tuladha ( di depan memberi contoh )
Bagi seseorang yang sudah diamanahi menjadi pimpinan dalam suatu koloni maka akan lebih baik ketika orang tersebut memberikan contoh dalam bentuk aksi, bukan sekedar perintah, himbauan , ataupun larangan yang hanya diucapkan.
- Ing Madya Mangun Karsa ( di tengah membangun semangat )
Bagi seorang pemimpin hal ini sangat penting dikarenakan seorang pemimpin tidak selalu bisa mengerjakan tugas sendiri. Bagi rakyat ataupun bawahannya, dorongan emosional atau yang biasanya disebutkan dengan kata semangat dari seorang pemimpin akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri dan akan menggugah gairah bawahan tersebut untuk melakukan apa yang diamanahkan oleh pimpinan secara maksimal. Maka dari itu, Pemimpin yang mengamalkan falsafah ini akan disegani oleh seluruh anggotanya.
- Tut Wuri Handayani ( di belakang memberi dukungan )
Hampir sama dengan falsafah sebelumnya, dikarenakan ada batasnya bagi manusia dalam mengerjakan sesuatu maka seorang pemimpin sangat perlu memberikan dukungan kepada anggotanya yang akan melaksanakan suatu tindakan yang mulia. Dukungan tersebut dapat berupa restu, nasihat, harta benda, ataupun doa.

Dengan mengamalkan falsafah tersebut insya Allah akan membuat terciptanya koloni yang harmonis dan berkualitas. Ingat, Pemimpin tanpa pendukung ibarat burung tanpa sayap. Bersama akan menciptakan hubungan sinergis antara pemimpin dan bawahannya atau biasa disebut Manunggaling Kawula lan Gusti.
Sekian dan selamat membaca.

Wallahul Muwafieq Ilaa Aqwamith Tharieq
Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Penulis : Firdaus A. 
Penyunting : Hanif 'Izzuddin Zakly 

Posting Komentar

0 Komentar